Semangat Olah Raga, Cara Cegah Pandemi Covid 19 di Balai RSBKL Dinas Sosial DIY

 

ODGJ Balai RSBKL

Pemenuhan hak bagi setiap warga terus diupayakan Dinsos DIY kepada semua kalangan termasuk kepada Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Selama pandemi, klien Balai Rehabilitasi Sosual Bina Karya dan Laras (BRSBKL) DIY tetap penuhi hak-hak ODGJ dengan beberapa kegiatan.

Kepala BRSBKL DIY, Hinukoro Aji menuturkan jika selama pandemi pelayanan terhadap 250 ODGJ di balai tetap berjalan optimal meski dengan beberapa penyesuaian. Dijelaskan Hinukuro, salah satu perubahan yang dilakukan guna cegah penularan di BRSBKL DIY Unit Bina Laras yakni perihal kunjungan.

"Sebelum pandemi kami masih menerima kunjungan keluarga, namun selama pandemi sementara ditiadakan untuk menekan risiko penularan," terang Hinukuro pada Selasa (8/12/2020). Meski demikian pihaknya bisa memfasilitasi keluarga yang ingin berkomunikasi dengan klien di balai melalui video call.

Dari segi protokol kesehatan lainnya, BRSBKL DIY Unit Bina Laras terapkan aturan ketat. Hinukoro menerangkan jika setiap petugas dari mulai cleaning service, pekerja sosial, perawat dan beragam unsur lainnya yang masuk di lingkungan balai wajib menerapkan 4M (Memakai masker, Mencuci tangan, Menjaga jarak dan Menghindari kerumunan). Sejumlah wastafel pun dipasang di beberapa titik, sedangkan pemeriksaan suhu wajib dilakukan di pintu masuk balai.

Selain itu para klien ODGJ di balai pun dibekali dengan masker kain dibagikan tak hanya sekali waktu. "Semua wajib terapkan protokol kesehatan, apalagi kami para pegawai yang keluar masuk ini punya potensi membawa, kalau klien ODGJ kan tidak keluar-keluar hanya di asrama. Jadi kita harus terapkan protokol betul-betul seperti memakai masker saat memberi pelayanan langsung kepasa para klien ODGJ," tuturnya.

Alur pengobatan rutin klien ODGJ pun alami sedikit perubahan selama pandemi. Hinukoro menerangkan sebelumnya saat kondisi normal, klien ODGJ dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Grhasia untuk mendapatkan pengobatan. Hal tersebut dilakukan untuk menekan mobilitas ODGJ keluar masuk balai yang berisiko terkena paparan Covid-19. "Kalau dulu berbondong-bondong dibawa ke RSJ Grhasia menggunakan minibus, kalau sekarang lewat perawatnya. Nanti perawatnya yang mengurus obatnya," jelasnya. Dengan demikian pengogatan klien ODGJ tetap terlayani sedangkan protokol pencegahan Covid-19 tetap ditegakkan.

Asupan gizi dan vitamin juga terus diberikan kepada klien ODGJ di BRSBKL DIY Unit Bina Laras. Diterangkan Hinukoro konsumsi vitamin selalu diberikan kepada ODGJ untuk mejaga kesehatan klien dan meningkatkan imunitas. "Vitamin kami selalu disuplai dari Dinsos DIY dan itu enggak putus, kami tinggal ajukan permintaan sesuai kebutuhan nanti vitamin lantas dikirimkan ke balai," terangnya. Vitamin pun disalurkan ke sejumlah pegawai karena memiliki aktivitas yang berat menghadapi ratusan klien ODGJ. Harapannya daya tahan tubuh klien ODGJ maupun petugas pun sama baiknya.

Upaya meningkatkan daya tubuh juga dilakukan dengan olahraha setiap harinya. Hinukoro menyebutkan jika setiap pagi sejumlah senam diberikan kepada klien ODGJ. Tak lupa pada klien juga diberi kesempatan berjemur beberapa saat agar menerima vitamin D. "Setiap hari kita ajak olahraga, senam, berjemur dan berjalan mengitari balai, agar mereka berolahraga dan daya tahan tubuhnya bagus. Kalau enggak gitu mereka tidak olahraga," ungkapnya. Setidaknya ada tiga sesi senam yang diberikan instruktur BRSBKL DIY Unit Bina Laras.

Kegiatan-kegiatan yang mengasah keterampilan klin ODGJ pun menurut Hinukoro tetap diberikan selama pandemi. Para klien ditatar berbagai keterampilan sesuai minat dan keahliannya. "Ada yang pandai nukang ya kita kasih latihan pertukangan, ada yang diberi keterampilan bertani, membatik, memasak, memijat, tergantung kliennya," ujarnya.

Selama hampir kurang lebih 10 bulan pandemi, Hinukoro menceritakan jika sudah dua kali Rapid Diagnostic Test (RDT) dilakukan kepada seluruh klien ODGJ penghuni asrama dan pegawai. Hasilnya 15 orang dinyatakan reaktif namun tidak ada satu orang pun yang dinyatakan positif melalui uji swab. Sementara pada RDT yang kedua, tak satu pun petugas maupun klien ODGJ yang dinyatakan reaktif. "Artinya segala upaya pencegahan yang dilakukan alhamdulillah berhasil, berbagai protokol kesehatan yang diterapkan membuat BRSBKL DIY Unit Bina Laras tidak ada paparan Covid-19," ungkapnya.

Disebutkan Hinukoro jika angka kematian klien ODGJ tiap tahunnya berkurang dari tahun ke tahun. Pada 2018 angka kematian klien ODGJ mencapai 32 orang, berkurang pada 2019 dengan 15 orang meninggal dan pada 2020 hanya tiga orang klien ODGJ yang meninggal dunia. Hinukoro berharap dari berbagai upaya yang dilakukan BRSBKL DIY Unit Bina Laras di bawah naungan Dinsos DIY untuk selalu menjaga keaehatan, penyembuhan, dan pemulihan klien ODGJ masyarakat bisa lebih awareness terhadap keberadaan ODGJ. Saat ini tercatat kurang lebih 400 orang berhasil selesai rehabilitasi di BRSBKL DIY Unit Bina Laras.

"Saya harap tidak ada penolakan lagi ODGJ yang sudah selesai rehabilitasi oleh keluarga maupun masyarakat lantaran dulu pernah mengamuk misalnya. Itu namanya diskriminasi. Mereka ODGJ juga kangen dengan keluarga, ingin pulang, mari kita suppott. Saya juga berharap keluarga klien yang rehabilitasnya susah selesai harus selalu memberikan pendampingan, khususnya pendampingan obat. Pendampinhan yang terpenting adalah mereka diorangkan agar mereka tidak mengalami kekambuhan membali. Apabila mengalami kekambuhan harus jalani pengobatan kembali," tegas Hinukuro.

Harapan yang diutarakan Hinukuro nampaknya sepadan dengan tugas Dinsos DIY dan BRSBKL DIY Unit Bina Laras yang begitu kompleks. Koordinator Pekerja Sosial, Sutoyo punya tugas berat melacak keluarga dari ODGJ yang belum diketahui identitasnya. Dari 250 klien ODGJ yang direhabilitasi di balai, hanya 77 orang yang diketahui asal keluarganya, sementara 173 orang sisanya masih dalam pencarian. "Sebanyak 173 klien ODGJ inilah yang ditanggung Bapel Jamkesos DIY melalui dari amggaran APBD, sedangkan 77 klien ditanggung keluarga pengobatannya," terangnya.

Sutoyo menyebutkan jika pelacakan keluarga ODGJ terbilang sulit, apalagi bila kondisi klien yang belum bisa diajak mengobrol perihal asal-usulnya atau belum pulih ingatannya. Pun saat diketahui keluarganya, tak semua keluarga mau menerima kembali klien ODGJ meskipun telah selesai rehabiltasi. "Kalau sudah begini kami akan melakukan edukasi dibantu kader jiwa maupun perangkat pemerintahan setempat agar bisa memulangkan klien ODGJ," ujarnya. Menurutnya ODGJ masih mendapat stigma negatif dari masyarakat, padahal mereka juga memerlukan dukungan agar tidak kambuh lagi pasca rehabilitasi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages