Kemensos Ajak Masyarakat Hargai Penyandang Disabilitas



Masyarakat seharusnya melindungi dan menghargai keberadaan penyandang disablitas di mana saja berada, apalagi di lingkungan civitas akademika yang merupakan tempat penyemaian kader intelektual bangsa. Harapan tersebut disampaikan Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kementerian Sosial (Kemensos), Nahar saat berkunjung ke Kampus Universitas Gunadarma, Jalan Margonda, Depok, Senin (17/7).

Nahar didampingi sejumlah pejabat Kemensos, Pekerja Sosial Anak, Tenaga Kesejahteraan Sosial dan Team Reaksi Cepat Kementerian Sosial. Sengaja menginisiasi pertemuan dengan mengajak berbagai latar belakang terkait penyandang disabilitas pasca adanya kasus bullying yang menimpa salah satu mahasiswa penyandang disabilitas.
Dari pihak kampus Universitas Gunadarma diwakili Pembantu Rektor III, Irwan Bastian. Irwan menyatakan permohonan maaf dan menjelaskan pihaknya telah membentuk team investigasi untuk menelaah kasus yg mengindikasikan keterlibatan beberapa mahasiswa dalam kasus tersebut.
Pertemuan menghasilkan 10 butir berisi poin-poin pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas yang ditandatangani oleh 107 lembaga dan komunitas yang bergerak di bidang rehabilitasi sosial untuk penyandang disabilitas dan 178 individu para pemerhati, keluarga dari anak disabilitas dan akademisi.
Nahar menambahkan pentingnya pencarian solusi bagi kepentingan yang terbaik bagi anak agar situasi kembali berjalan kondusif bagi anak untuk melanjutkan kuliah kembali ditempat semula. “Kampus harus menjadi area ramah dan inklusi bagi penyandang disabilitas belajar dan berkarya,” katanya.
Hal senada disampaikan Primaningrum, orang tua dari anak penyandang disabilitas menyampaikan pentingnya tanggung jawab perlindungan dan penghargaan atas keberadaan penyandang disabilitas.
Mahmud Pasya dari PPDI (Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia), mengajukan kesediaan untuk mendampingi kampus dalam mengkondisikan dinamika kampus dengan shelter khusus atau pusat kajian khusus disabilitas, sebagai laboratorium mahasiswa untuk mengakses informasi dan mewujudkan kampus inklusi.
“Saya berharap semua dapat di selesaikan dengan proporsional, mengedepankan pendekatan empati baik bagi korban dan pelaku”, Ujarnya. Mahmud Pasha menambahkan perlu melakukan mediasi bagi kepentingan yang terbaik bagi anak dan menyegerakan membangun lembaga berupa pusat kajian disabilitas yang dapat digunakan sebagai laboratorium bagi dosen, mahasiswa dan masyarakat dalam menyelenggarakan kampus inklusi dan masyarakat inklusi.

Latri Mumpuni
Analis NAPZA Dit RSKP NAPZA
Sumber : Kemensos RI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages